Hari ini, program ‘Realigi’ di TransTV, menanyangkan tentang kisah seorang anak, yang ingin agar ibunya bertobat. Ia sering dikata-katai orang temannya, bahwa ibunya seorang pelacur. Kemudian ia, bersama team ‘realigi’ mengikuti ibunya, dan mendapati ternyata ibunya memang seorang pelacur. Tapi, biarpun kecewa, sang anak tetap merasa ibunya adalah orang yang baik. Karena pada dasarnya ibunya adalah ibu yang baik.
Di klimaks cerita, sang anak pingsan, dan dibawa ke rumah sakit. Ternyata sang anak menderita kanker otak. Sang Ibu sudah tau sejak lama, anaknya sedari kecil sudah divonis menderita kanker otak. Dan sang Ayah ternyata menceraikan Ibunya karena malu pada keluarganya punya anak penyakitan. Akhirnya, Ibu yang putus asa ditinggal suami ini, tidak menemukan cara lain. Dia begitu cintanya pada anaknya, dan tentu, biaya pengobatan kanker pasti jauh dari kata murah. Akhirnya Sang Ibu dengan terpaksa menjadi pelacur, ia tak perduli dirinya dihina, demi anaknya. Dan dia tidak pernah mengatakah penyakit anaknya kepada Sang Anak karena ia takut semangat hidup sang anak hilang.
Di luar berbagai masalah tersebut, yang kadang memang dihadapi orang manusia, kita harus selalu ingat dan bersyukur atas apa yang kita miliki. Dan kita tidak berhak menilai orang lain. Apakah ibunya pelacur dan kita menghinanya? Kadang-kadang, kesalahan terbesar masyarakat Indonesia adalah selalu mengucilkan orang lain, tanpa mencari jalan keluar. Pelacur dihina, tapi tidak dicarikan jalan keluar agar mereka tidak melacur lagi. Jika di lingkungan tempat tinggal, ada seorang pelacur, maka pelacur ini akan diusir oleh masyarakat. Apakah mereka akan selamat hanya dengan diusir? Bukannya lebih baik mereka dibuat bertobat? Bantu carikan jalan keluar buat mereka? Bukannya kebanyakan pelacur jatuh ke dunia gelap ini karena ketidaksengajaan? Semoga kita bisa berbuat sesuatu buat sesama. Bukan hanya kepada pelacur, tapi terhadap sesama, siapapun yang membutuhkan dan kita sanggup memberikan
Apakah ini berarti saya setuju setuju saja orang menjadi pelacur? Yah tentu tidak setuju. Tapi jangan lupa, para pelacur ini juga tidak pernah setuju bahwa mereka harus menjadi pelacur, tapi nasib telah membawa mereka ke sana. Tentu saya yakin, jauh di lubuk hati mereka, mereka juga mau berhenti. Maka tugas masyarakatlah untuk membantu mereka mencari jalan yang benar. Bukan dengan cara mengusir ataupun mengucilkan mereka. Karena itu tidak akan menyelesaikan masalah. Itu hanya akan membuat mereka jatuh lebih jauh lagi. Yeah, Are you part of the of solution… or part of the problem ?
Filed under: Old posts Ditandai: | Blog, Ervina, linwie, pemikirian, wordpress




Sabar dalam menghadapi cobaan dan bersyukur ketika menerima nikmat Tuhan sangat penting agar kita tidak lupa daratan.
Cerita yang menyentuh.Semoga si ibu segera sadar dan meninggalkan pekerjaannya yang tidak baik itu.
Salam
Iyah. Belakangan saya sering nonton TransTV tentang realiti show. Ada orang yg suka dengan tayangan seperti itu, ada yang tidak setuju. Yah klo saya, ambil pelajaran aja dari sana